INDRAMAYU # Bagi petani, air bukan sekadar mengaliri sawah. Air adalah penentu keberhasilan musim tanam, produktivitas panen, hingga keberlangsungan ekonomi keluarga. Ketika pasokan air irigasi terganggu, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, tetapi juga ketahanan pangan nasional. Kesadaran itulah yang mendorong Kementerian Pertanian Republik Indonesia turun langsung ke lapangan untuk memastikan sistem irigasi tetap berjalan optimal.
Kementan RI Pastikan Ketersediaan Air Irigasi untuk Petani
Kementerian Pertanian Republik Indonesia melakukan peninjauan langsung ke Bendung Salamdarma dan Waduk Cipancuh di Kabupaten Indramayu, Jumat (24/7/2026). Kunjungan tersebut dipimpin oleh Dr. Ir. Pamuji Lestari, Tenaga Ahli Kementerian Pertanian RI.
Agenda ini bertujuan melihat secara langsung kondisi ketersediaan air irigasi, mengevaluasi infrastruktur pengairan, sekaligus memperkuat koordinasi antarlembaga dalam mengantisipasi potensi kekeringan yang dapat memengaruhi produktivitas pertanian di wilayah Indramayu bagian barat.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Plt. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Abdul Ghoni Majdi, Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Indramayu Maulana Malik, S.E., Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu Dedi Agus Permadi, S.T., Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si., para camat dari Kecamatan Haurgeulis, Anjatan, Bongas, Sukra, Kandanghaur, Gabuswetan, dan Patrol, unsur UPTD KPP, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta para pengelola jaringan irigasi.
Bendungan Salamdarma Menjadi Fokus Peninjauan
Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan di Bendungan Salamdarma, salah satu infrastruktur vital pada Daerah Irigasi Jatiluhur yang memasok kebutuhan air bagi ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu dan sebagian wilayah Kabupaten Subang.
Di lokasi tersebut, rombongan mengecek kondisi debit air, mengamati operasional pintu-pintu bendung, serta berdialog langsung dengan petani, KTNA, Gapoktan, dan pengelola irigasi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi selama musim tanam. Peninjauan lapangan dilakukan agar pemerintah memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi distribusi air sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan petani.
Waduk Cipancuh Dibahas sebagai Penyangga Distribusi Air
Usai melakukan peninjauan di Bendungan Salamdarma, rombongan melanjutkan kunjungan ke Waduk Cipancuh yang berada di bawah pengelolaan BBWS Citarum.
Di lokasi tersebut dilaksanakan rapat koordinasi yang membahas strategi pengelolaan sumber daya air, khususnya pola distribusi air menuju jaringan irigasi pertanian di Kecamatan Haurgeulis, Anjatan, Sukra, Patrol, Bongas, Kandanghaur, Gabuswetan, serta wilayah pertanian lainnya di Indramayu bagian barat.
Pembahasan difokuskan pada langkah-langkah antisipatif menghadapi musim kemarau, pengaturan distribusi air secara proporsional, serta penguatan koordinasi lintas instansi agar kebutuhan air petani tetap terpenuhi selama musim tanam berlangsung.
Aspirasi Petani Menjadi Prioritas Pemerintah
Dalam dialog yang berlangsung di kawasan Bendungan Salamdarma, para petani menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Keluhan utama yang mengemuka adalah distribusi air irigasi yang dinilai belum optimal, terutama ke lahan-lahan pertanian di wilayah hilir.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu jadwal tanam, menurunkan produktivitas hasil panen, bahkan meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak segera memperoleh penanganan yang komprehensif.
Perwakilan Gapoktan dan KTNA berharap pemerintah pusat dapat mempercepat penyelesaian persoalan jaringan irigasi, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta memastikan distribusi air berlangsung lebih merata sehingga seluruh petani memperoleh hak yang sama dalam mendapatkan pasokan air.
Menanggapi aspirasi tersebut, tim tenaga ahli Kementerian Pertanian RI menyampaikan bahwa seluruh masukan dari petani akan menjadi bahan evaluasi dan segera dikoordinasikan dengan instansi teknis terkait guna menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
Pemerintah Daerah Siap Mengawal Perbaikan Irigasi
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, Drs. H. Sugeng Heryanto, M.Si., menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Indramayu berkomitmen mengawal peningkatan pelayanan irigasi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah maupun nasional.
Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan benih unggul, pupuk, maupun alat dan mesin pertanian, tetapi juga bergantung pada kepastian tersedianya air bagi seluruh petani.
Para Camat Kompak Dorong Solusi Nyata
Camat Haurgeulis sekaligus Plt. Camat Anjatan, Rory Firmansyah, S.STP., M.Si., mengatakan kehadiran tenaga ahli Kementerian Pertanian merupakan bukti bahwa pemerintah hadir untuk mendengarkan langsung persoalan masyarakat.
“Kami mengapresiasi kehadiran tim ahli dari Kementerian Pertanian yang turun langsung ke Bendung Salamdarma untuk melihat kondisi di lapangan dan berdialog dengan para petani. Kami berharap seluruh masukan yang disampaikan dapat segera ditindaklanjuti sehingga distribusi air irigasi semakin optimal dan mampu mendukung produktivitas pertanian,” ujarnya.
Senada dengan itu, Camat Sukra Sigit Widiyanto, S.H., berharap hasil kunjungan mampu menghasilkan solusi konkret melalui peningkatan pengelolaan jaringan irigasi dan distribusi air yang lebih efektif sehingga seluruh wilayah pertanian memperoleh pasokan air secara proporsional.
“Petani membutuhkan kepastian air untuk menjaga keberlangsungan musim tanam. Kami berharap hasil peninjauan ini melahirkan solusi konkret melalui peningkatan pengelolaan jaringan irigasi maupun pengaturan distribusi air yang lebih efektif sehingga seluruh wilayah pertanian memperoleh pasokan air secara proporsional.”
Camat Patrol Bagus Asep Trisnadi menilai Bendung Salamdarma memiliki peran vital bagi keberlangsungan pertanian di Indramayu Barat. Menurutnya, kehadiran tenaga ahli Kementerian Pertanian menjadi harapan baru bagi petani agar berbagai kendala distribusi air dapat segera memperoleh solusi nyata.
“Kehadiran tenaga ahli dari Kementerian Pertanian menjadi harapan bagi para petani agar berbagai kendala distribusi air dapat segera memperoleh solusi yang nyata. Kami berharap hasil kunjungan ini segera ditindaklanjuti sehingga petani dapat menjalankan musim tanam dengan lebih tenang dan produktif.”
Sementara itu, Camat Bongas Deddy Irawan, S.Sos., M.AP., menegaskan bahwa aspirasi petani harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan irigasi sehingga setiap keputusan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
“Aspirasi petani harus menjadi bahan pertimbangan utama dalam penyusunan kebijakan pengelolaan irigasi. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola irigasi, dan kelompok tani harus terus diperkuat agar distribusi air semakin optimal.”
Camat Kandanghaur sekaligus Plt. Camat Gabuswetan Rusyad Nurdin, S.T., M.Si., menambahkan bahwa ketersediaan air merupakan kebutuhan utama petani. Menurutnya, distribusi air yang berjalan baik akan meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat.
“Ketersediaan air merupakan kebutuhan utama petani. Ketika distribusi air berjalan dengan baik, produktivitas pertanian akan meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat. Kami mengapresiasi perhatian Kementerian Pertanian yang turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil serta mendengarkan aspirasi petani.”
Kolaborasi Menjadi Kunci Menjaga Lumbung Padi Nasional
Bendung Salamdarma merupakan salah satu infrastruktur irigasi strategis yang menyuplai air bagi puluhan ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu dan sebagian wilayah Kabupaten Subang. Keberadaannya menjadi penentu keberhasilan musim tanam sekaligus memperkuat posisi Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional.
Persoalan irigasi tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, BBWS Citarum, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Indramayu, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, PJT II, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan.
Dengan komunikasi yang terbuka dan koordinasi yang berkelanjutan, berbagai persoalan distribusi air diyakini dapat diatasi secara bertahap. Pada akhirnya, Bendung Salamdarma bukan hanya menjadi infrastruktur pengendali air, tetapi juga simbol harapan ribuan petani yang menggantungkan masa depan keluarganya pada setiap tetes air yang mengalir ke sawah. Menjaga keberlanjutan irigasi berarti menjaga ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memastikan Indramayu tetap menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia.











