Petani Berjalan Demi Kepastian, Bukan Sekadar Protes
Berjalan kaki puluhan kilometer di bawah terik matahari bukanlah pilihan yang mudah. Namun, itulah cara yang dipilih Serikat Tani Indramayu (STI) untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Bagi para petani, aksi long march dari Karangsinom, Kecamatan Kandanghaur menuju Istana Negara Jakarta bukan sekadar unjuk rasa, melainkan simbol perjuangan mencari kepastian atas janji pembangunan irigasi dan bantuan alat pertanian yang selama ini dinanti.
Perjalanan itu akhirnya tidak sampai ke Jakarta. Saat rombongan baru tiba di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur, perwakilan Kementerian Pertanian datang menemui mereka. Pertemuan tersebut menjadi titik balik yang menghadirkan harapan baru melalui kesepakatan resmi antara pemerintah dan para petani.
Aspirasi Berawal dari Kebutuhan Dasar Petani
Aksi yang dimulai pada Kamis (23/7/2026) pukul 10.00 WIB itu dilatarbelakangi belum terealisasinya janji pembangunan dua titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang pernah disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada peringatan Hari Tani Nasional 24 September 2025.
Selain itu, STI juga mempertanyakan kejelasan proposal bantuan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang telah diajukan kepada Kementerian Pertanian namun belum memperoleh kepastian.
Bagi petani, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut bantuan pemerintah, tetapi juga berkaitan langsung dengan keberlanjutan produksi pangan. Irigasi menjadi kebutuhan utama ketika musim kemarau tiba, sedangkan modernisasi alat pertanian menjadi salah satu cara meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya usaha tani.
Pengamanan Humanis Jaga Aspirasi Tetap Kondusif
Selama aksi berlangsung, jajaran Polsek Kandanghaur bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kandanghaur, personel kepolisian, dan ambulans melakukan pengawalan sejak titik keberangkatan hingga lokasi audiensi.
Pengamanan dilakukan bukan untuk membatasi penyampaian aspirasi, melainkan memastikan kegiatan berjalan aman tanpa mengganggu aktivitas masyarakat maupun arus lalu lintas di Jalur Pantura yang dikenal sebagai salah satu jalur nasional tersibuk di Indonesia.
Kapolsek Kandanghaur AKP Joni, S.H., mengatakan kepolisian berkewajiban memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat, termasuk mengawal penyampaian pendapat di muka umum.
“Kami melakukan pengamanan dan pengawalan agar penyampaian aspirasi dapat berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Mengingat aksi berlangsung di ruas Jalan Pantura yang memiliki tingkat kepadatan lalu lintas cukup tinggi, kami juga melakukan pengaturan arus lalu lintas agar kegiatan ini tidak menghambat para pengguna jalan maupun aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, koordinasi antara Polsek Kandanghaur, Forkopimcam, serta seluruh pihak yang terlibat menjadi kunci terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang tetap kondusif selama aksi berlangsung.
Dialog Menggantikan Langkah Panjang Menuju Jakarta
Ketua STI, Casudi, menegaskan long march merupakan bentuk keseriusan petani dalam memperjuangkan hak mereka.
“Kami akan terus berjalan sampai ada perwakilan Kementerian Pertanian yang memberikan kepastian terhadap tuntutan kami.”
Namun perjalanan tersebut berhenti di Desa Kertawinangun setelah perwakilan Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) serta Direktorat yang membidangi kegiatan prapanen Kementerian Pertanian bersedia melakukan audiensi.
Proses dialog berlangsung cukup dinamis. Salah satu pembahasan yang sempat menjadi perdebatan ialah usulan agar anggota STI bergabung dalam kelompok tani sebagai syarat memperoleh bantuan pemerintah.
Sekretaris STI, Fadil, menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki legalitas sebagai lembaga petani sehingga tidak harus bergabung dengan kelompok tani.
Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang, kedua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara dan ditandatangani di atas materai.
Kesepakatan yang Memberi Harapan Baru
Dalam kesepakatan tersebut, Kementerian Pertanian berkomitmen menyalurkan bantuan berupa:
- 7 unit irigasi pompa.
- 6 unit traktor roda dua.
- 2 unit combine harvester.
- 2 unit power thresher.
Seluruh bantuan disepakati akan disalurkan langsung kepada Serikat Tani Indramayu.
Menurut Fadil, realisasi bantuan akan dilakukan secara bertahap. Penyerahan enam unit traktor roda dua dijadwalkan mulai 6 Agustus 2026, sedangkan bantuan lainnya akan direalisasikan sepanjang bulan Agustus.
Meski demikian, STI menegaskan akan terus mengawal pelaksanaan kesepakatan tersebut hingga seluruh bantuan benar-benar diterima oleh petani.
Mengapa Irigasi dan Alsintan Sangat Penting?
Peristiwa ini mengingatkan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada infrastruktur dan teknologi.
Ketersediaan irigasi mampu menjaga keberlangsungan produksi saat musim kemarau, sementara penggunaan alat mesin pertanian membantu petani menghemat waktu, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan hasil panen.
Di sisi lain, penyelesaian persoalan melalui dialog menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang lebih konstruktif dibandingkan konflik yang berkepanjangan.
Bagi masyarakat, aksi ini menjadi pembelajaran bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara, namun harus dilakukan secara tertib, damai, serta menghormati hak masyarakat lainnya.
Komitmen Harus Dibuktikan dengan Realisasi
Kesepakatan yang telah ditandatangani tentu menjadi awal yang baik, namun keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi dalam pelaksanaannya.
Bagi para petani, yang paling penting bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan hadirnya irigasi yang mampu mengairi sawah dan alat pertanian yang benar-benar dapat digunakan meningkatkan produktivitas.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sektor pertanian merupakan fondasi ketahanan pangan nasional. Ketika pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat mampu mengedepankan dialog serta saling menghormati, maka solusi yang berpihak kepada kepentingan publik akan lebih mudah diwujudkan.
Perjuangan STI mungkin berhenti di Kandanghaur, tetapi harapan petani Indramayu kini bergantung pada satu hal yang paling dinanti: terealisasinya seluruh komitmen yang telah disepakati.











