INDRAMAYU # Bagi masyarakat pesisir Eretan Wetan dan Eretan Kulon, banjir rob bukan sekadar peristiwa musiman. Air laut yang meluap telah bertahun-tahun menggenangi permukiman, mengganggu aktivitas nelayan, merusak infrastruktur, bahkan mengancam keberlangsungan kehidupan warga. Karena itu, pembangunan sistem pengendalian banjir rob menjadi harapan besar agar masyarakat dapat hidup lebih aman dan produktif.
Komitmen tersebut terlihat saat Anggota DPR RI Komisi V, H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, S.T. melaksanakan kunjungan reses ke Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Senin (27/7/2026). Kunjungan ini bertujuan memastikan pembangunan pengaman pantai di Desa Eretan Kulon dan Desa Eretan Wetan berjalan sesuai perencanaan sekaligus menyerap aspirasi masyarakat mengenai penanganan banjir rob.
Dalam kunjungan tersebut, Daniel didampingi Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Indramayu Abdul Rojak, S.H., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai Golkar H. Taufik Hidayat, S.H., Plt. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Abdul Ghoni Majdi, Camat Kandanghaur Rusyad Nurdin, S.T., M.Si., unsur Forkopimcam, para kuwu se-Kecamatan Kandanghaur, serta perwakilan kontraktor pelaksana PT Sangguriang Karya Semesta.
Meninjau Langsung Lokasi Pembangunan Pengaman Pantai
Sesuai agenda kunjungan, rombongan tiba sekitar pukul 10.00 WIB di Desa Eretan Kulon Blok Buyut sebelum melanjutkan peninjauan ke lokasi pembangunan tanggul pantai dan normalisasi Kali Perawan.
Di lapangan, pihak BBWS Citarum bersama PT Sangguriang Karya Semesta memaparkan perkembangan proyek, mulai dari metode konstruksi, pemasangan beton L-Shape, penempatan Tetrapod sebagai pemecah gelombang, hingga pekerjaan normalisasi saluran yang menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir rob.
Selain melihat langsung progres fisik pekerjaan, rombongan juga mempelajari Master Plan Pengendalian Banjir Rob Eretan Wetan dan Eretan Kulon yang menjadi acuan pembangunan secara bertahap hingga tahun 2029.
Master Plan Disusun Berdasarkan Permasalahan Nyata di Lapangan
Paparan BBWS Citarum menjelaskan bahwa kawasan pesisir Eretan selama bertahun-tahun menghadapi persoalan yang kompleks.
Banjir rob tidak hanya disebabkan oleh pasang air laut, tetapi juga dipengaruhi luapan Kali Perawan, penurunan muka tanah (land subsidence), serta kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.
Data menunjukkan sekitar ±170 hektare lahan dan permukiman terdampak banjir rob, meliputi 523 rumah di Desa Eretan Wetan dan 705 rumah di Desa Eretan Kulon.
Selain itu, abrasi pantai menyebabkan garis pantai mengalami kemunduran sekitar 200 meter dibandingkan kondisi pada tahun 2009.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah menyusun penanganan secara bertahap melalui pembangunan tanggul pengaman pantai, tanggul permukiman, pemecah gelombang, normalisasi Kali Perawan, hingga rencana pembangunan kolam retensi dan rumah pompa sebagai sistem pengendalian banjir rob yang terintegrasi.
Progres Proyek Lebih Cepat dari Target
Pada Tahun Anggaran 2026, pemerintah melalui BBWS Citarum melaksanakan paket pekerjaan Pengaman Pantai Eretan Kabupaten Indramayu dengan nilai kontrak Rp26,52 miliar yang bersumber dari APBN.
Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Sangguriang Karya Semesta selama 233 hari kalender, terhitung sejak 13 Mei hingga 31 Desember 2026.
Lingkup pekerjaan meliputi pembangunan tanggul pengaman pantai menggunakan konstruksi L-Shape dan Tetrapod sepanjang 588 meter, pembangunan tanggul permukiman pasangan batu sepanjang 500 meter, serta normalisasi Kali Perawan sepanjang 250 meter.
Berdasarkan laporan progres minggu ke-11 periode 20–26 Juli 2026, target pekerjaan sebesar 20,885 persen, sementara realisasi telah mencapai 26,670 persen, atau mengalami deviasi positif 5,785 persen. Capaian tersebut menunjukkan pekerjaan berada di atas target (ahead of schedule).
Daniel Mutaqien: Infrastruktur Ini Harus Melindungi Masyarakat dalam Jangka Panjang
Di sela-sela peninjauan, H. Daniel Mutaqien Syafiuddin menegaskan bahwa pembangunan pengendalian banjir rob di kawasan Eretan merupakan kebutuhan mendesak yang harus dikawal hingga seluruh tahapan master plan dapat diselesaikan.
Menurutnya, masyarakat pesisir telah terlalu lama menghadapi ancaman banjir rob sehingga pembangunan tidak boleh berhenti hanya pada satu segmen pekerjaan.
“Kehadiran kami di sini bukan hanya untuk melihat progres fisik pembangunan, tetapi juga memastikan bahwa program yang didanai melalui APBN benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Penanganan banjir rob di Eretan harus diselesaikan secara menyeluruh sesuai master plan yang telah disusun sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Daniel.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap progres pekerjaan yang saat ini telah melampaui target.
Namun demikian, menurutnya percepatan pekerjaan harus tetap diimbangi dengan kualitas konstruksi agar infrastruktur mampu memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.
“Kami mengapresiasi progres pekerjaan yang saat ini berada di atas target. Namun yang lebih penting adalah kualitas pekerjaan harus tetap menjadi prioritas. Infrastruktur ini dibangun untuk melindungi masyarakat, sehingga harus benar-benar kuat, aman, dan memiliki umur layanan yang panjang,” katanya.
Daniel menegaskan bahwa Komisi V DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan agar pembangunan berjalan tepat mutu, tepat waktu, serta tepat sasaran.
“Kami ingin masyarakat Eretan Wetan dan Eretan Kulon memiliki rasa aman ketika musim pasang datang. Infrastruktur ini bukan sekadar membangun tanggul, tetapi merupakan investasi negara untuk melindungi permukiman, aktivitas nelayan, jalan nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir. Aspirasi masyarakat yang kami terima hari ini juga akan menjadi bahan perjuangan kami di DPR RI agar program penanganan rob dapat terus berlanjut hingga seluruh tahapan master plan selesai,” tegasnya.
![]()
Masyarakat Menyampaikan Aspirasi Secara Langsung
Usai peninjauan lapangan, rombongan melanjutkan kegiatan di Aula KUD Eretan Wetan.
Dalam agenda tersebut, BBWS Citarum memaparkan perkembangan pembangunan sekaligus menggelar sarasehan bersama masyarakat Desa Eretan Wetan dan Desa Eretan Kulon.
Forum dialog dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai aspirasi, mulai dari perlindungan kawasan permukiman, percepatan pembangunan infrastruktur pengendali rob, hingga harapan agar program pemerintah dapat berlanjut sampai seluruh kawasan pesisir memperoleh perlindungan yang optimal.
Setelah kegiatan tersebut, rombongan melaksanakan makan siang bersama sebelum melanjutkan agenda berikutnya.
Audiensi Bahas Infrastruktur dan Kebutuhan Air
Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan audiensi di Aula Kecamatan Kandanghaur yang dihadiri Anggota DPR RI Komisi V, BBWS Citarum, pemerintah daerah, serta perwakilan masyarakat dari lima kecamatan, yakni Kandanghaur, Sukra, Patrol, Bongas, dan Anjatan.
Dalam forum tersebut dibahas berbagai persoalan infrastruktur sumber daya air, termasuk usulan masyarakat mengenai penambahan debit air guna mendukung kebutuhan pertanian dan masyarakat di wilayah sekitar.
Kolaborasi Menjadi Kunci Perlindungan Kawasan Pesisir
Kunjungan reses ini menjadi bukti bahwa penyelesaian persoalan banjir rob tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, legislatif, BBWS Citarum, kontraktor pelaksana, pemerintah desa, dan masyarakat agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat.
Melalui pembangunan yang dirancang bertahap hingga 2029, pemerintah berharap kawasan Eretan Wetan dan Eretan Kulon terbebas dari ancaman banjir rob dan abrasi pantai, sekaligus menjaga permukiman warga, jalan nasional, aktivitas nelayan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir yang lebih tangguh dan berkelanjutan.











