INDRAMAYU # Program bantuan Irigasi Pompa (Irpom) dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang disalurkan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu mendapat apresiasi dari kalangan petani di Kecamatan Gantar. Bantuan tersebut dinilai menjadi solusi penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama saat memasuki musim kemarau.
Namun di balik apresiasi tersebut, muncul fakta lapangan yang menunjukkan bahwa kebutuhan irigasi di sejumlah wilayah masih belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satunya berada di Desa Mekarjaya yang memiliki sekitar 700 hektar lahan pertanian produktif, sementara kapasitas pompa yang tersedia dinilai belum mampu mengairi seluruh areal secara optimal.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Gantar, Iwan Supriyanto, menyampaikan bahwa bantuan Irpom merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian. Menurutnya, keberadaan pompa memberikan kemudahan bagi petani dalam mengatur distribusi air sehingga aktivitas budidaya menjadi lebih terjamin.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Menteri Pertanian dan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu. Bantuan Irpom ini adalah bukti nyata perhatian pemerintah terhadap nasib petani di lapangan. Dengan adanya pompa, kami bisa lebih leluasa mengatur pengairan sawah,” ujar Iwan Supriyanto kepada Pantura Journalist
Desa Mekarjaya Menjadi Contoh Nyata Masih Terbatasnya Kapasitas Irigasi
Di tengah rasa syukur tersebut, KTNA Kecamatan Gantar juga mengungkap kondisi riil yang masih dihadapi petani.
Desa Mekarjaya merupakan salah satu kawasan sentra produksi padi di Kecamatan Gantar. Dengan luas lahan mencapai sekitar 700 hektar, desa ini memiliki potensi besar dalam mendukung produksi pangan Kabupaten Indramayu maupun nasional.
Berdasarkan keterangan KTNA, bantuan Irpom yang telah diterima memang mampu meningkatkan pelayanan pengairan. Namun secara teknis kapasitasnya belum sebanding dengan luas areal yang harus dilayani.
Akibatnya, distribusi air belum dapat menjangkau seluruh lahan secara maksimal ketika debit sungai menurun atau musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Kita harus jujur melihat data. Di Mekarjaya saja ada 700 hektar lahan produktif. Bantuan yang ada saat ini memang membantu, tetapi jika kita ingin mencapai target Indeks Pertanaman maksimal, kapasitas irigasi yang ada masih jauh dari cukup. Kami membutuhkan penambahan unit Irpom agar tidak ada lahan yang kekeringan dan gagal panen,” kata Iwan.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan program bantuan tidak hanya diukur dari jumlah unit yang disalurkan, tetapi juga dari kesesuaian antara kapasitas pompa dengan kebutuhan riil di lapangan.
Program Irpom Dinilai Efektif, Tetapi Perencanaan Berbasis Data Perlu Terus Diperkuat
Hasil penelusuran berdasarkan informasi dari KTNA menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keberadaan program, melainkan pada skala kebutuhan.
Semakin luas areal pertanian, semakin besar pula kebutuhan kapasitas pompa, jaringan distribusi air, serta pengelolaan operasionalnya.
Dalam konteks tersebut, bantuan Irpom telah memberikan manfaat nyata bagi petani. Akan tetapi, apabila target peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam setiap tahun ingin dicapai secara optimal, maka dukungan infrastruktur irigasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Temuan ini merupakan gambaran awal berdasarkan keterangan narasumber di lapangan dan masih memerlukan verifikasi teknis dari instansi terkait mengenai perhitungan kebutuhan pompa, debit air, serta cakupan layanan setiap unit Irpom.
Aspirasi Petani Mengarah pada Penyempurnaan Program, Bukan Sekadar Penambahan Bantuan
Berbeda dengan kritik yang bersifat menolak program pemerintah, aspirasi yang disampaikan KTNA Kecamatan Gantar justru mengarah pada penyempurnaan pelaksanaan program.
Petani berharap pemerintah melakukan evaluasi kebutuhan air berdasarkan luas lahan aktual sehingga distribusi bantuan menjadi lebih tepat sasaran.
KTNA mengusulkan tiga langkah penting.
Pertama, melakukan survei teknis ulang terhadap desa-desa dengan areal pertanian luas seperti Mekarjaya.
Kedua, menambah alokasi unit Irpom apabila hasil evaluasi menunjukkan kapasitas yang tersedia belum mencukupi.
Ketiga, memastikan adanya pendampingan teknis serta perawatan berkala agar mesin pompa dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Menurut Iwan Supriyanto, investasi pada sistem irigasi merupakan investasi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.
“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya berharap petani mendapatkan jaminan ketersediaan air. Jika air tercukupi, Insya Allah produksi pangan akan meningkat dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.”
Ruang Konfirmasi bagi Pemerintah Tetap Terbuka
Hingga berita ini disusun, belum terdapat tanggapan resmi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu maupun Kementerian Pertanian Republik Indonesia terkait kebutuhan tambahan unit Irpom di Desa Mekarjaya.
Pantura Journalist membuka ruang konfirmasi kepada kedua instansi tersebut untuk memberikan penjelasan mengenai:
- jumlah bantuan Irpom yang telah dialokasikan untuk Kecamatan Gantar;
- dasar penentuan jumlah unit yang diterima setiap wilayah;
- evaluasi terhadap kebutuhan irigasi di Desa Mekarjaya;
- peluang penambahan bantuan pada tahap berikutnya.
Pemuatan tanggapan resmi akan dilakukan sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan sesuai Kode Etik Jurnalistik.
Ketahanan Pangan Bergantung pada Kepastian Air
Ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama keberhasilan produksi padi.
Ketika irigasi berjalan baik, petani memiliki peluang meningkatkan frekuensi tanam, menjaga produktivitas lahan, serta mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Sebaliknya, apabila kebutuhan air belum tercukupi, sebagian lahan berpotensi mengalami penurunan produktivitas sehingga berdampak terhadap pendapatan petani dan pasokan pangan.
Dalam konteks Kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional, setiap upaya memperkuat infrastruktur irigasi memiliki arti strategis, tidak hanya bagi petani, tetapi juga bagi stabilitas pangan nasional.
Semangat gotong royong antara pemerintah, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta masyarakat menjadi modal penting agar setiap bantuan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Apresiasi Disampaikan, Evaluasi Tetap Diperlukan
Bantuan Irigasi Pompa yang telah diterima petani Kecamatan Gantar menunjukkan adanya komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian.
Namun, fakta mengenai masih terbatasnya kapasitas pelayanan irigasi di Desa Mekarjaya menjadi masukan penting bagi proses evaluasi program.
Aspirasi yang disampaikan KTNA bukanlah penolakan terhadap kebijakan pemerintah, melainkan dorongan agar bantuan yang telah berjalan dapat semakin efektif berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Langkah evaluasi berbasis data, perencanaan teknis yang akurat, serta komunikasi terbuka antara pemerintah dan petani diharapkan mampu menghasilkan solusi yang berkelanjutan sehingga target peningkatan Indeks Pertanaman dan ketahanan pangan dapat tercapai secara optimal.











