Indramayu # Setiap tanggal 17 Agustus, kita mengibarkan Merah Putih. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Upacara digelar di berbagai tempat. Anak-anak mengikuti berbagai perlombaan. Masyarakat berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan.
Semua itu penting.
Tetapi, setelah bendera diturunkan dan perayaan selesai, ada satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting untuk kita renungkan:
Apa arti kemerdekaan bagi kehidupan kita hari ini?
Indonesia telah 81 tahun merdeka. Sebuah perjalanan yang tidak pendek. Kita telah melewati berbagai zaman, pergantian pemerintahan, krisis ekonomi, perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga tantangan global yang semakin kompleks.
Namun, kemerdekaan sesungguhnya bukan sekadar angka usia Republik Indonesia.
Kemerdekaan adalah amanah.
Para pendiri bangsa tidak berjuang hanya agar kita bisa mengibarkan bendera. Mereka berjuang agar bangsa Indonesia memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri, berdiri sejajar dengan bangsa lain, dan membangun kehidupan yang adil serta sejahtera.
Karena itu, tugas kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah.
Tugas kita adalah memenangkan persaingan zaman.
Kemerdekaan di Era Baru
Dulu, musuh bangsa datang dengan senjata dan kekuatan militer. Hari ini, tantangannya jauh lebih beragam.
Kemiskinan, ketimpangan, rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya daya saing, pengangguran, korupsi, disinformasi, hingga ketergantungan terhadap teknologi dan produk dari luar negeri adalah bagian dari tantangan yang harus kita hadapi.
Dunia juga bergerak sangat cepat.
Artificial intelligence, ekonomi digital, energi baru, industri kreatif, perubahan iklim dan geopolitik telah mengubah cara negara-negara bersaing.
Dalam kondisi seperti ini, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi bangsa lain.
Indonesia harus menjadi bangsa yang mampu menciptakan, menghasilkan, dan memimpin.
Inilah makna kemerdekaan yang harus kita perjuangkan pada zaman sekarang.
Kita ingin Indonesia bukan hanya besar secara jumlah penduduk dan luas wilayah, tetapi juga besar dalam kualitas sumber daya manusia, teknologi, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan karakter bangsanya.
Persatuan Jangan Hanya Menjadi Slogan
Ada satu modal besar yang dimiliki Indonesia dan tidak boleh kita kehilangan: persatuan.
Kita memang berbeda. Berbeda suku, agama, budaya, profesi, pilihan politik, bahkan berbeda cara melihat persoalan bangsa.
Tetapi perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh.
Demokrasi memberi kita ruang untuk berbeda pendapat. Namun demokrasi juga mengajarkan bahwa setelah perbedaan pilihan selesai, kita tetap memiliki rumah yang sama: Indonesia.
Jangan sampai perbedaan politik membuat kita lupa bahwa tetangga kita adalah saudara sebangsa.
Jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita mudah saling mencaci.
Dan jangan sampai media sosial membuat kita lebih mudah percaya kepada informasi yang memecah belah daripada fakta yang menyatukan.
Menurut saya, nasionalisme hari ini tidak harus selalu ditunjukkan dengan kata-kata besar.
Nasionalisme bisa dimulai dari hal sederhana: menghormati orang lain, menjaga lingkungan, bekerja dengan jujur, membayar kewajiban, menaati aturan, membantu sesama, dan tidak menyebarkan kebencian.
Itulah nasionalisme yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Indramayu Juga Harus Berani Bermimpi Besar
Sebagai masyarakat Indramayu, kita tentu memiliki tanggung jawab untuk melihat potensi daerah sendiri.
Indramayu bukan daerah yang kekurangan modal untuk berkembang.
Kita memiliki pertanian, perikanan, pesisir, energi, industri, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan sumber daya manusia yang sangat besar.
Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Petani harus semakin sejahtera.
Nelayan harus memiliki kehidupan yang lebih baik.
Anak-anak muda harus memiliki kesempatan untuk berkembang.
Pelaku UMKM harus mendapatkan ruang untuk naik kelas.
Pelaku ekonomi kreatif harus mampu melihat perubahan zaman sebagai peluang, bukan ancaman.
Dan yang tidak kalah penting, generasi muda Indramayu harus berani memiliki mimpi besar.
Jangan sampai anak-anak muda kita hanya menjadi penonton ketika daerah dan bangsa lain bergerak maju.
Kita harus menciptakan generasi yang berani menjadi pelaku.
Generasi Muda Adalah Penentu Masa Depan
Saya percaya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.
Kita tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang akan negara berikan kepada anak muda?”
Kita juga harus bertanya:
“Apa yang bisa anak muda berikan kepada negara?”
Pertanyaan ini penting karena pembangunan bangsa bukan pekerjaan satu kelompok saja.
Pemerintah memiliki tanggung jawab. Dunia usaha memiliki tanggung jawab. Organisasi masyarakat memiliki tanggung jawab. Partai politik memiliki tanggung jawab. Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab.
Dan generasi muda juga memiliki tanggung jawab.
Mereka harus dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan pekerjaan.
Bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pencipta teknologi.
Bukan hanya menjadi konsumen produk, tetapi mampu menjadi produsen yang mampu bersaing.
Bukan hanya menjadi pengikut tren, tetapi mampu menciptakan tren.
Di sinilah gagasan tentang Indonesia sebagai “Superpower Baru” harus kita pahami secara sederhana.
Superpower bukan berarti Indonesia harus menjadi negara yang paling kuat dan mendominasi negara lain.
Sebaliknya, Indonesia harus menjadi negara yang kuat karena rakyatnya berkualitas, ekonominya tangguh, teknologinya maju, kebudayaannya dihormati, demokrasi dan hukumnya berjalan, serta mampu berdiri dengan percaya diri di tengah dunia.
Berani Berubah
81 tahun kemerdekaan seharusnya membuat kita semakin berani melakukan perubahan.
Berani meninggalkan cara-cara lama yang tidak lagi relevan.
Berani memperbaiki kesalahan.
Berani mengakui kekurangan.
Berani menerima kritik.
Dan yang paling penting, berani mengambil tindakan.
Sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya pandai berbicara tentang masa depan.
Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang mau bekerja untuk mewujudkan masa depan tersebut.
Kemerdekaan memberikan kita kebebasan untuk menentukan arah.
Tetapi kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kekacauan.
Karena itu, kemerdekaan harus berjalan bersama dengan disiplin, integritas, persatuan dan keberanian.
Merdeka Bukan Berarti Selesai
Bagi saya, 81 tahun Indonesia merdeka bukanlah tanda bahwa perjuangan telah selesai.
Justru sebaliknya.
Perjuangan memasuki babak baru.
Jika para pahlawan dahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas kita sekarang adalah memastikan kemerdekaan menghasilkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Kita harus memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak.
Kita harus memastikan masyarakat memiliki kesempatan ekonomi.
Kita harus memastikan hukum memberikan keadilan.
Kita harus memastikan pembangunan tidak hanya menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.
Dan kita harus memastikan bahwa perbedaan tidak membuat bangsa ini terpecah.
Dari Indramayu, mari kita menatap Indonesia dengan optimisme.
Kita boleh berbeda pilihan.
Kita boleh berbeda pandangan.
Tetapi untuk Indonesia yang lebih maju, kita harus memiliki satu keberanian yang sama:
keberanian untuk bersatu dan bekerja.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar warisan dari para pahlawan.
Kemerdekaan adalah amanah yang harus kita teruskan.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita dalam mengisi kemerdekaan bukanlah seberapa meriah kita merayakan 17 Agustus.
Tetapi seberapa besar kontribusi kita setelah 17 Agustus berlalu.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dalam persatuan.
Maju dalam keberanian.
Berdaulat dalam menentukan masa depan.
Indonesia kuat, Indonesia bangkit, Indonesia menjadi bangsa yang disegani dunia.
Oleh : Suyanto, S.Pd.
Ketua DPD Partai Gelora Indonesia Kabupaten Indramayu











